Bismillahirrahmanirrahim
Pagi, 19 Januari 2017.
Sambil membawa kardus berisi oleh-oleh laki-laki itu naik ojek menuju stasiun Tawang. Tampak tergesa-gesa, takut ketinggalan kereta.
Bukan tanpa alasan. Hari itu adalah hari yang sangat penting. Dia tidak mau hari yang penting itu gagal hanya karena terlambat sampai stasiun. Terlambat (naik moda transportasi) adalah kondisi yang pantang terjadi, begitu salah satu prinsip dalam hidupnya.
Dan tentu saja dia sampai lebih awal, hampir satu jam lebih cepat dari jadwal keberangkatan.
Sambil menunggu KA Ciremai siap berangkat, berbagai topik diskusi mulai disiapkan. Berusaha menyusun topik yang sekiranya pas dan menyenangkan.
Berbagai opsi jawaban untuk tiap pertanyaan yang mungkin muncul juga mulai disusun.
Mulai yang standard macam, “Kerja dimana, Mas?” jawabannya ini.
Atau “Berapa bersaudara, Mas?” jawabannya begini.
Rada berat, “Siap nikahnya kapan, Mas?” jawabannya bla bla bla.
Rada partisan, “Pilpres 2014 pilih Jokowi atau Prabowo, Mas?”
Rada olahraga, “MU atau Liverpool, Mas?”
Rada geografi, “Berapa luas pulau Nias, Mas?”
Sampai yang paling ekstrem, misalnya “Siapa dalang pembunuh Munir, Mas?”
Harus disiapkan jawabannya pula.
Ya, perjalanan hari itu memiliki misi penting: silaturahmi ke keluarga calon istri sekaligus menemukan tanggal di kalender yang ada hari baiknya.
Okey, semua hari baik. Saya setuju.
Jangan sampai first impression ini tidak berhasil. Kesan pertama menentukan keberhasilan-keberhasilan berikutnya.
Perjalanan berlangsung lancar dan turun di Cirebon dengan selamat. Berbekal panduan yang diberikan, estafet perjalanan berikutnya dimulai: turun kereta > naik becak ke Masjid (lupa namanya) > angkot ke Polsek Kedawung > elp ke Kadipaten > dilanjut elp ke alun-alun Majalengka.
(Sekilas info gk penting, kenapa tidak pakai ojek online saja biar tidak kebanyakan oper sana-sini, di Cirebon Grab baru beroperasi Mei 2017. Sedangkan Gojek, beroperasi menjelang pernikahan pada bulan Agustus 2017. )
Perjalanan yang relatif cepat, plus tidak terlalu sulit untuk menemukan rumahnya, karena lokasinya yang strategis di tengah kota.
Yang ada malah lebih sulit meyakinkan diri agar tidak gugup, apalagi saat itu “disidang” tiga orang sekaligus.
Beruntungnya topik-topik yang sudah dipersiapkan tidak semuanya muncul. Obrolan berlangsung hangat, lancar dan menyenangkan. Cair dan bisa kemana-mana, termasuk topik obrolan seputar kejadian 1965 sempat disenggol Aki (Purnawirawan TNI).
Pertemuan pertama itu diharapkan cukup meyakinkan ibu, bahwa anak perempuannya akan baik-baik saja, hidup dan masa depannya akan diperjuangkan dengan baik. Bahwa cita-cita anak perempuannya dalam menggapai pendidikan akan didukung sekuat raga, sepenuh jiwa.
Singkat cerita. Di pertemuan tersebut disepakati khitbah akan dijadwalkan 7 bulan setelah silaturahmi pertama: 19 Agustus 2017.
“Man Proposes, God Disposes…”
Hari ini, 19 Agustus 2022. Terhitung tepat lima tahun sejak ijab qabul itu diucapkan, disaksikan berpasang-pasang mata. Dicatat sah di hadapan hukum dan agama. Menjalani suka dan duka membangun keluarga.
Konon, saking beratnya konsekuensi yang harus ditanggung laki-laki, Arsy berguncang dan malaikat turut menjadi saksi ketika sepasang anak manusia berikrar dan mengikat janji dalam pernikahan.
—
Menikah itu tentang proses belajar dan mengamalkan, seumur hidup. Bahkan sampai tulisan ini ditulis, kami masih dalam proses belajar memahami satu sama lain. Berusaha menerima kekurangan, mendukung kelebihan dan mencari titik temu jika ada satu dua hal yang sekiranya berbeda sudut pandang. Perbedaan adalah rahmat, jika bisa dikompromikan kenapa tidak? Selama tidak melanggar aturan negara dan agama.
Kami (atau khususnya saya ya) jauh dari kata sempurna, pernah marah? tentu saja. Beda dengan yang bawaannya marah-marah ya.
Setelah nikah berantem? pernah. Sampai nangis? pernah. Tapi di situlah bumbunya. Tidak ada nahkoda tangguh di lautan tanpa dihantam badai dan gelombang. Lempeng dan datar-datar saja? tidak mungkin.
Nasehat ibu dulu sebelum menikah:
“Tidak ada rumah tangga yang baik-baik saja. Semua rumah tangga memiliki ujiannya masing-masing”
“Yang baik akan dipertemukan dengan yang baik, yang buruk dengan yang buruk. Kekurangan masing-masing tidak akan diketahui kecuali setelah sah nanti, maka tak ada cara lain selain terus memperbaiki diri. Allah akan mempertemukan jodoh sebagaimana dirimu, itulah cerminmu, itulah jodohmu”. Ibu Etih.
Maka di lima tahun pernikahan ini, terima kasih yang sebesar-besarnya untuk segala bakti dan pengorbanannya. Bahkan rasa-rasanya tidak akan cukup terima kasih.
Terima kasih telah rela dan penuh keikhlasan, lima tahun hidup bertumbuh (melebar & mengembang ), di bawah naungan satu atap – bersama orang yang bahkan tidak pernah sekalipun memberikan sesuap nasi di masa kecilmu. Diri ini yang bukan siapa-siapa, lalu tiba-tiba menjadi sosok dan pemeran utama, gravitasi dalam tiap pijak langkahmu.
Kita tidak perlu membandingkan pencapaian dengan orang lain. Bukankah kita hari ini sudah berhasil dalam definisi masing-masing? Cita-citamu terkejar, bahagiamu terhampar – setiap hari dalam pelukan (anak dan suami).
Rasanya baru kemarin, hari Jum’at selepas maghrib di awal bulan Agustus ketika engkau mengabarkan bahwa jadwal yang sedianya diagendakan khitbah (19 Agustus 2017) diganti menjadi peristiwa yang lebih penting: akad nikah.
H-2 minggu, dari khitbah menjadi akad nikah.
Terima kasih sudah berani mengambil kesempatan itu! Sebuah keputusan paling berani yang mengubah segalanya hari ini.
Entah tanah mana lagi yang akan kita pijak. Berapa tangis dan tawa lagi yang akan kita nikmati. Berapa musim lagi yang akan kita tempuh. Kita akan melewati itu semua.
Sebagaimana kisah sepasang merpati, setinggi apapun ia terbang: akulah tempat kembalimu, engkaulah tempat kembaliku.
Terima kasih, waktu. Engkau pertemukan kami dalam putaran takdirmu.
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah. Maka, (katakanlah kepada mereka, wahai Nabi Muhammad,) “Bersegeralah kembali (taat) kepada Allah. Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang jelas dari-Nya untukmu.”
Adz-Dzariyat (51) ayat 49-50.

Pernikahan ini adalah ketika kau menitipkan denyut pada nadiku, dan kuserahkan mata pada kelopakmu. Saat ada sakit yang tak sempat kukirimkan pada langit, semua akan berhimpit dan selesai ketika kau dan aku menjadi kita.
Ijonk Muhammad
Sepenggal kalimat di atas adalah caption yang pernah saya tulis di postingan instagram, lima tahun silam menjelang pernikahan (10 Agustus 2017). Bukan kalimat saya – tentu saja. Saya tidak seromantis itu dalam menyusun kata.
Kalimat di atas dikopas dengan harap-harap cemas, dalam upaya meyakinkan dan menguatkan diri sendiri bahwa pilihan (menikah) saat itu adalah yang terbaik. Dan ya, itulah takdir paling baik yang mengawali pintu-pintu rezeki yang lain hingga hari ini.
ps: maaf kalau tulisannya kaku – tidak runut, terakhir bantu nulis ibu negara di Enam Bulan Pertama Tsaqib sudah tiga tahun silam, sekarang anaknya sudah mau TK.
Bandung, 19 Agustus 2022.
Leave a Reply